al Ma'unah News (6)

Recent Bergerak

SLIDE

    Catatan Terbaru

    PENGEMBANGAN DAKWAH

    Tidak ada komentar
    I.         PENDAHULUAN
    Dakwah memiliki makna sebagai upaya menyampaikan ajaran yang diyakini kebenarannya tentang hakikat hidup serta perilaku hidup yang semestinya dilakukan sejalan dengan ajaran Islam yang telah disampaikan oleh Rasulullah Saw. dan diestafet oleh para sahabat, tabi’in, atba’uttabi’in serta para ulama yang sampai saat ini masih melaksanakan dakwah baik secara lisan maupun perilaku tauladan (bil-hal).
    Sebenarnya apabila kita fahami bersama bahwa peran dakwah ini merupakan kewajiban setiap muslim dimanapun berada dengan melepaskan kedudukan serta jabatan yang ia emban. Adapun pesantren dan kyainya adalah institusi yang memiliki peran sebagai salah satu sumber informasi tentang kebenaran ajaran. Karena itulah kemudian para santrinya berkewajiban menjadi mediator untuk melanjutkan dan menyebarkan ilmunya menjadi suatu yang bermanfaat bagi umat manusia. Dengan demikian keberadaan pesantren sebenarnya memiliki peran penting untuk tetap menjaga keberadaan agama, ilmu serta amal setiap manusia untuk senantiasa berada di jalan Allah Swt..
    Namun ada pertanyaan yang sangat menarik hari ini dari beberapa kenyataan yang menghawatirkan tentang peran dakwah, bahwa seolah agama tidak memiliki peran yang begitu besar sehingga manusia Indonesia hari ini sudah tidak lagi memiliki ketabuan terhadap perilakunya. Banyaknya kasus yang diangkat berkaitan dengan kriminalitas, mulai dari korupsi, perampokan, pemerkosaan, pemakaian narkoba, penyebaran VCD porno bahkan penghilangan nyawa manusia semudah orang menyembelih ayam.
    Sepertinya pendekatan dakwah kurang menyentuh pada hal-hal substansial namun lebih pada bentuk-bentuk budaya local dimana Islam diturunkan, yaitu bentuk-bentuk simbol budaya arab sementara essensi yang semestinya disentuh menjadi kurang terperhatikan.
    Sebagaimana kita baca dalam sejarah berbagai rintangan dan tantangan selalu dihadapi dalam berdakwah. Rasul Saw. sebagai pengemban amanat tersebut tidak secara tenang menghadapi kenyataan saat itu. Tantangan yang mengharuskan beliau mempertaruhkan nyawa berkali-kali ia hadapi, adalah pelajaran berarti dalam melaksanakan dakwah.
    Sebagaimana kita fahami pula bahwa Rasul Saw. senantiasa ditemani para sahabatnya dalam menyusun strategi dakwah sehingga terkadang harus melakukan perang. Keterlibatan para sahabat saat itu sangat memberi arti penting dalam dakwahnya, baik secara moril maupun materiel bahu membahu menyusun strategi selama 23 tahun menyebarkan ajaran Islam.
    Dari gambaran di atas yang perlu kita fahami bersama adalah peran utama menentukan strategi dalam berdakwah sehingga mampu memberikan makna sesungguhnya tentang Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Strategi dakwah tentu saja tidak bisa lepas dari adanya keterlibatan banyak orang di dalamnya. Hal ini merupakan suatu tugas utama bagi setiap muslim untuk menempatkan diri sebagaimana mestinya dengan peran dan kemampuan yang dimilikinya.
    Pemikiran untuk bersatu, hari ini lebih sempit dimaknai ke dalam sisi materialistik, kaum-kaum tertentu yang kurang mampu memberi kontribusi financial seolah tidak pernah memiliki peran dalam mengembangkan agama, terkadang agama sering dijadikan kendaraan kepentingan kelompok dalam mendorong gagasannya.
    Umatan wasathon seyogyanya dimaknai sebagai keterlibatan seluruh umat dalam peran dakwah, berdakwah lebih dapat dirasakan sebagai suatu tradisi yang membudaya dalam suatu lingkungan.
    Beberapa kenyataan yang ada dimana pola dakwah mencoba memisahkan kultur budaya dari segmen dakwah, sehingga yang terjadi adalah penolakan secara kultural terhadap agama sebagai imbas kekakuan dakwah yang dilakukan. Akhirnya umat sendiri seolah menjadi takut untuk mengakui hidupnya beragama. Perlawanan social ini akhirnya muncul faham sekuler yang melepaskan nilai-nilai agama yang “kaku” dalam aktivitas hariannya.
    II.       NILAI FILOSOFIS MENGENAI PERAN DAN TUGAS BERDAKWAH
    Sebelum membahas mengenai peran penting strategi, mari kita fahami beberapa nilai filosofis tentang peran dan tugas berdakwah diantaranya:
    1.     Tujuan Hidup Manusia di Muka Bumi
    Titik persoalan yang merupakan awal keberangkatan manusia yang patut dipelajari bahwa kehidupan manusia di dunia hakekatnya melanjutkan visi dan misi kehidupann Nabi Adam AS yang awal keberadaannya di surga digugat Iblis dengan alasan pemberian kemuliaan terhadap Adam AS dilakukan tanpa terlebih dahulu melalui proses uji kelayakan kemuliaan yang semestinya. Hingga keberadaan Iblis sebagai penggoda kepada setiap manusia adalah dinamika hidup yang tidak bisa lepas dalam peran dan tugas berdakwah manusia sepanjang masa.
    Dari sinilah kemudian cerita manusia di alam fana ini dimulai, setelah Iblis berhasil menggoda, Adam dan Hawa’ berikut keturunannya menjalani uji kelayakan kemuliaan di alam dunia dengan ketentuan; Bagi keturunan Adam-Hawa yang berhasil mempertahankan kemuliaan berhak kembali ke “Alam Mulia” sementara bagi yang tidak berhasil akan hidup bersama Iblis di alam yang lebih hina dari dunia ini. Dengan demikian tujuan hidup manusia di muka bumi adalah: Mempertahankan kemuliaan untuk dapat kembali ke “Alam Mulia”.
    Janji Allah Swt. kepada Nabi Adam AS akan mengutus para rasul beserta kitab suci telah ditepati. Dan Rasul terakhir dengan Al-Qur’an-nya telah diutus 14 abad silam dan umat manusia sekarang hidup di abad ke XV Hijriyah sebagai umat Nabi Muhammad Saw.. Agama bagi manusia merupakan lambang-lambang kemuliaan, petunjuk jalan kembali ke “Alam Mulia” sekaligus berfungsi sebagai perisai dari serangan yang menghancurkan.
    Segala yang dialami manusia selama hidup di dunia; kaya atau miskin, menjabat atau tidak, sehat atau sakit dan seterusnya, merupakan agenda ujian yang ditinggal mati sementara yang dibawa hanylah kesuksesan atau kegagalan dalam menjaga kemuliaannya ketika menyikapi agenda-agenda tersebut, sehingga segala upaya peningkatan tarap hidup sebenarnya hanya dalam rangka pencapaian sarana dan bukan tujuan hidup. Maka dari itu, aneka program pembangunan yang dilakukan baik oleh pemerintah atau umat hendaknya selalu dalam koridor kemuliaan; mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai kepada tahap keberhasilannya.
    2.     Manusia Sebagai Abdun dan Kholifah
    Selanjutnya dalam menjalani hidupnya ada dua peran penting yang dimiliki oleh setiap manusia, peran strategis tersebut tidak dapat lepas dari agenda Allah Swt. menguji kelayakan setiap manusia sebagai mahluk yang paling dimuliakan.
    a.     Peran Pertama Manusia Sebagai Abdun
    Allah Swt. adalah Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam ini, sementara manusia sebagai salah satu mahluk ciptaan yang dimiliki dan diatur oleh-Nya. Sehingga posisi manusia di hadapan Tuhan sebagai ‘abdun (hamba) haruslah merelakan kehilangan hak kepemilikan atas dirinya.
    Keadaan yang demikian mengharuskan setiap manusia senantiasa tunduk dan patuh kepada segala aturan-Nya, melaksanakan segala bentuk perintah-Nya, menjauhi hal-hal yang dilarangan oleh-Nya, senantiasa bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh-Nya serta bersikap rela atas setiap ketentuan-Nya terutama jika apa yang sudah diberikan suatu saat Allah Swt. mengambilnya kembali.
    Posisi ‘abdun disamping diperankan dalam hal vertikal (hablun min-Allah) yaitu hubungan manusia dengan Tuhan-nya juga diperankan dalam menghadapi agenda yang sedang terjadi atas dirinya dengan mensyukuri nikmat yang diterima dan sabar terhadap musibah yang terjadi.
    b.     Peran Kedua Manusia Sebagai Khalifah
    Selain peran abdun manusia diangkat oleh Allah Swt. untuk menjabat sebagai khalifah (wakil Allah) di muka bumi yang memiliki tugas dan wewenang untuk senantiasa memakmurkan kehidupan dunia.
    وَإِذْ قاَلَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي اْلأَرْضِ خَلِيْفَةً - كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ (متفق عليه)
    Posisi khalifah diperankan selain dalam hal horisontal (hablun min-annas) yaitu hubungan manusia dengan sesama mahluk (manusia, alam lingkungan dan binatang) juga diperankan dalam menghadapi agenda kehidupan yang belum dan mungkin akan terjadi dengan mengantisipasinya melalui berbagai upaya sehingga kehidupannya menjadi makmur dan sejahtera.
    3.     Batasan Wilayah Wewenang Tuhan Dan Wewenang Manusia
    Dalam optimalisasi peran dakwah terdapat batasan wewenang manusia, hal tersebut bukan berarti menyurutkan semangat dakwah yang dilakukan. Sebagaimana Allah Swt. mewajibkan kepada Rasul Saw. untuk berdakwah, namun disisi lain Allah Swt. menegur untuk tidak putus asa atas hasil yang didapatkan dari upaya-upaya dakwah yang telah dilakukan. Pembagian ruang wilayah antara wewenang manusia dengan wewenang Tuhan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
    WEWENANG MANUSIA
    WEWENANG TUHAN
    DO’A
    IJABAH
    USAHA
    HASIL
    BELAJAR
    FAHAM
    AMAL
    NILAI
    DOSA
    AMPUNAN
    SAKIT
    KESEMBUHAN
    DAKWAH
    HIDAYAH
    Batasan-batasan tersebut itulah yang kemudian menghubungkan antara wewenang ihtiar bagi setiap manusia terutama dalam berdakwah dengan sikap tawakal dan legowo atas segala bentuk hasil usaha dakwahnya.
    4.     Ibadah Vertikal dan Ibadah Horisontal/Amal Shaleh Sosial
    Ilmu Fiqih hakekatnya untuk mengetahui keabsahan (sah atau batal) amal ibadah yang dilakukan oleh seorang mu’min, bila semua syarat dan rukunnya dipenuhi maka menurut standar Fiqih amal tersebut berarti sah.
    Tidak sedikit amal ibadah yang menurut standar Fiqih sah, namun karena niatnya yang salah atau ia melakukan sesuatu yang melanggar norma agama yang berkaitan dengan sesama (horisontal) -seperti durhaka kepada orang tua, menyakiti/merugikan sesama, mengambil harta orang tanpa hak- Allah Swt. enggan menerima amalnya dengan tidak mendapatkan nilai pahala. Sebagai contoh :
    a.     Dinyatakan dalam hadits bahwa Allah Swt tidak menerima sholat orang yang memutuskan hubungan silaturahim, durhaka kepada orang tua dan orang yang membawa kabur harta majikannya/korupsi.
     ثَلاَثٌ لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَتَهُمْ, قَاطِعُ الرَّحْمِ وَعَاقٌ لِوَالِدَيْهِ وَعَبْدٌ آبِقٌ
    إِذَا أَبَقَ الْعَبْدُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ (رواه مسلم)
    b.     Puasa hanya menghasilkan haus dan lapar (tidak berpahala) bila ketika berpuasa melakukan perbuatan yang merugikan atau menyakitkan sesama.
    كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعُ وَ الْعَطَشُ

    c.      Perkataan yang menyakiti penerima shodaqoh menghanguskan pahalanya.
    لاَ تُبْطِلُوْا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَ اْلأَذَى
    d.     Syarat mendapat haji mabrur disamping biaya dari sumber yang bersih, adalah tidak melakukan rofas, fusuk, dan jidal (bertengkar dengan sesama/horisontal) ketika melaksanakan ibadah haji.
    فَلاَ رَفَثَ وَ لاَ فُسُوْقَ وَ لاَ جِدَالَ فِى الْحَجِّ
    e.     Surga anak di bawah telapak kaki ibu sehingga mustahil bisa menggapai keridloan Allah Swt. dengan durhaka kepada orang tua. Begitu pula seorang istri kepada suami dan seorang pegawai kepada instansinya.
    الْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ اْلأُمَّهَاتِ
    أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَ زَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ
    Dengan demikian ibadah vertikal dan ibadah harisontal/amal shaleh sosial merupakan kesatuan yang tidak terpisah, amal shaleh sosial merupakan penentu diterima atau ditolaknya ibadah vertikal disamping berfungsi sebagai penyempurnanya, begitu pula sebaliknya.
    Selanjutnya dalam rangka menjaga kemuliaan untuk dapat kembali ke “Alam Mulia” Allah Swt. memberi tuntunan seperti yang tertuang dalam hadits; Tidak satu pun - termasuk Rasul Saw. - mampu membeli surga dengan nilai ibadahnya semata di alam dunia, satu-satunya penentu untuk dapat masuk ke surga adalah rahmat dan kasih sayang Allah Swt. yang disubsidikan kepada nilai ibadah vertikal dan horisontalnya (amal shaleh sosial).
    لَنْ يَدْخُلَ أَحَدُكُم الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ قَالُوْا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: وَ لاَ أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللهُ بِرَحْمَتِهِ
    Dalam hadits lain diungkapkan bahwa; Ada seseorang yang berupaya membeli surga dengan akumulasi nilai amal ibadahnya selama 500 tahun dan setelah diaudit ternyata nilai ibadahnya hanya cukup untuk menebus nikmat salah satu matanya yang telah dipakai selama hidup di alam dunia. Jadi, jangankan untuk membeli surga, untuk menyewa seluruh nikmat yang pernah dipakai selama hidup di alam dunia saja nilai ibadah selama 500 tahun tersebut tidak akan mencukupinya, sehingga nilai ibadah siapapun termasuk Rasul Saw. sendiri tidak akan mencukupi nilai yang diperlukan untuk masuk ke surga.
    Dan ternyata menurut hadits bahwa surga terdiri dari berbagai tingkatan/derajat, derajat tertinggi bukan diperuntukkan bagi orang yang terbanyak nilai ibadah vertikalnya tetapi - sesuai dengan keunggulan ibadah horisontal/amal shaleh sosial - diperuntukkan bagi orang yang terbanyak melakukan keshalehan sosial dan terbaik akhlaknya terhadap sesama. Dengan demikian, amal shaleh sosial adalah merupakan cara dan jalan untuk dapat mencapai ketinggian derajat di dunia maupun di akhirat.
    أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِيْ أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلْقُهُ (رواه ابو داود)
    إِنَّ مِنْ اَحَبِّكُمْ اِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَحَاسِنُكُمْ اَخْلاَقًا (رواه الترمدي)
    إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكَ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الْقَائِمِ (رواه ابو داود)
    أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا (رواه الترمدي)
    مَا مِنْ شَيْءٍ اَثْقَلُ فِي الْمِيْزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ (رواه الترمدي)
    Terjemahan kontekstual hadits di atas menunjukkan bahwa حُسْنُ الْخُلُقِ adalah “etika baik” terhadap sesama yang diaplikasikan dalam amal shaleh sosial yang dapat dimisalkan dengan tolong menolong, saling peduli, silih-asah, silih-asih dan silih-asuh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
    Melalui ibadah vertikal seseorang mendapat manfaat dan nilai pahala sebatas untuk dirinya sendiri, sementara melalui ibadah horisontal manusia akan mendapat nilai pahala sebanyak orang yang terlibat dan memperoleh manfaat darinya. Siapapun yang melakukan amal shaleh sosial dan diikuti serta dirasakan manfaatnya oleh orang banyak -apalagi menjadi sebuah tradisi dan budaya- maka dia mendapatkan nilai pahala sebanyak orang yang melakukan tradisi dan budaya tersebut sampai hari kemudian.
    III.      METODE DAKWAH
    1.     Dakwah Bil-lisan
    Sarana komunikasi yang semakin mempermudah mengakses segala bentuk informasi yang diinginkan termasuk diantarnya informasi menyangkut agama. Dengan kemajuan teknologi tersebut, dakwah bil-lisan tidak dapat didefinisikan secara manual melalui mimbar podium di depan hadirin, melainkan bisa disampaikan melalui berbagai media yang essensinya tetap sebagai cerminan dakwah bil-lisan.
    Di samping melalui media radio dan televisi, informasi dapat diakses melalui HP atau internet serta banyak pula dilakukan dengan menggunakan media cetak baik buku, koran, majalah maupun buletin. Kemajuan teknologi merupakan suatu peluang sekaligus tantangan dalam pelaksanaan dakwah dewasa ini, mengingat peran teknologi tersebut selain sebagai penunjang terhadap upaya manusia untuk mempermudah aktivitasnya dapat pula sebagai sebuah sarana yang melahirkan dampak negatif yang berpengaruh terhadap pola pikir yang berdampak pada perubahan kultur budaya.
    Tantangan yang ada tersebut haruslah ditanggapi dengan berbagai upaya antisipatif sehingga keberadaan teknologi tersebut justru dapat benar-benar dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas peran dan fungsi dakwah.
    2.     Dakwah Bil-hal
    Dakwah yang efektif telah dilaksanakan oleh Rasul Saw. dimana beliau lebih mengedepankan ketauladanan dalam mensosialisasikan norma-norma agama. Pendekatan perilaku yang dilakukan Rasul Saw. sangat efektif dalam membangun militansi gerakan para sahabat untuk melakukan perubahan terhadap pola pikir serta kebiasaan mereka dan dalam jangka dua dasa warsa mampu menyebarkan Islam sampai ke penjuru dunia.
    Dakwah bil-hal sebenarnya adalah cara yang paling efektif mengingat manusia senantiasa mencari contoh figur ketauladanan. Dakwah bil-hal lebih mengutamakan bagaimana memberikan tauladan kepada umat tentang apa yang sebenarnya harus dan atau tidak boleh dilakukan sebagaimana Rasul Saw. lakukan, beliau tidak pernah memerintahkan sesuatu yang harus diperbuat kecuali belaiau sendiri yang melasanakannya terlebih dahulu sehingga menjadi contoh tauladan bagi umatnya.
    Dalam kontek kekinian, di era globalisasi dan era informasi siapapun bisa melakukan dakwah, dan sering kita dapatkan ternyata dakwah tersebut cenderung dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk tujuan suatu kepentingan, dimana menuntut kita untuk lebih waspada terhadap gejala dan realita seperti ini dengan upaya-upaya antisipatif melalui pengembangan strategi dakwah. Strategi yang dimaksud adanya keseimbangan antara kemampuan da’i, metode dan sarana, baik dakwah bil-lisan maupun dakwah bil-hal.
    a.     Keseimbangan Antara Media/Sarana dan Metode
    Pada umumnya, kelemahan seorang da’i terletak pada ketidak mampuan di dalam menggunakan sarana yang sebenarnya mendukung kinerja dakwahnya, misalnya kemampuan menggunakan fasilitas computer serta sarana komunikasi. Kekurangan sarana senantiasa menjadi alasan bagi lemahnya dakwah yang dilaksanakan atau sebaliknya ketersediaan fasilitas sarana tidak menjamin optimalnya dakwah yang dilakukan sebagai akibat dari kekurangmampuan dalam menggunakan sarana tersebut.
    Dalam hal ini seorang da’i harus memiliki kecerdikan dalam mengatur serta menyesuaikan kondisi umat terutama factor kultur budaya. Pendekatan dalam dakwah bil-hal dengan contoh suri tauladan tidaklah semudah dakwah bil-lisan dengan berceramah.
    Berbagai contoh dakwah dari berbagai literature sejarah, mulai dari Rasul Saw. sampai pada masuknya Islam di Indonesia, kita mendapatkan ragam pendekatan yang dilakukan oleh wali sanga yang menitik beratkan pada keniscayaan perbedaan kultur budaya.
    b.     Wawasan Tentang Kemajuan Jaman
    Disamping cerdik dalam membaca realitas social, tugas dakwah juga menuntut wawasan da’i dalam memahami kemajuan jamannya. Dalam hal ini da’i seringkali terjebak oleh adanya kekakuan sikap dan kekurangberdayaan akibat lemahnya wawasan dan kemampuan membaca kemajuan dan perubahan jaman.
    Tuntutan dari meningkatnya pola pikir rasional umat terhadap berbagai fenomena yang dihadapinya, harus ditanggapi oleh seorang da’i dengan wawasan jaman serta dengan segala keterbukaan dan lapang dada. “laksana karang menahan ombak, seseorang harus tegap supaya tidak tergerus ombak perubahan jaman”.
    Tidak jarang lemahnya pemahaman terhadap kemajuan jaman ini da’i lebih memilih menghindar serta berteriak dari kejauhan, tatkala fenomena yang muncul menuntut keberadaan seorang da’i justru meninggalkannya, sehingga wajar apabila umat menurunkan tingkat kepercayaannya terhadap keberadaan tokoh agama, terlebih hal yang menyedihkan adalah adanya praktek politisasi agama yang dilakukan oleh sebagian para da’i.
    IV.     KESIMPULAN
    Sebagai sosok panutan yang senantiasa waktunya dicurahkan sebagai dambaan umat, seorang da’i dituntut memiliki:
    1.     Kecerdasan berpolitik tapi bukan politisi, maksudnya bahwa setiap da’i dituntut untuk tampil di arena umat yang terbangun di antara hiruk pikuk perseteruan politik, sehingga kemampuan yang dimilikinya tersebut dapat membendung arus pergesekan kepentingan politik.
    2.     Kecerdikan analisis social, merupakan senjata utama yang akan mendorong lahirnya metode dakwah yang tepat untuk dilakukan. Dengan kemampuan analisis sosial maka seorang da’i akan secara objektif menilai kondisi masyarakat yang dihadapinya sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh issu yang berkembang.
    3.     Ketangguhan mental; Serangan-serangan yang dilakukan terhadap pemuka agama biasanya berupa rayuan atau fitnah. Bagi seorang da’i hendaknya tidak mudah terpancing emosinya dan tetap memiliki rasa percaya diri yang tinggi agar tidak terhanyut oleh arus rayuan dan fitnah yang mengakibatkan kebingungan umat.
    4.     Kemampuan manajerial; yaitu adanya pola kesadaran keteraturan perencanaan yang metuntut da’i senantiasa memantau setiap gejala dan perkembangan umat untuk dikelola dengan dakwah yang sistemik, bertahap dan berkesinambungan.
    5.     Pemahaman da’i terhadap sistem dan peraturan yang berkembang di jamannya. Seorang da’i dituntut untuk memahami setiap aturan main dan aspek kebijakan yang sedang berjalan baik cultural masyarakat maupun structural pemerintah, sehingga persoalan-persoalan kemasyarakatan dan ketatanegaraan yang selama ini seolah lepas dari essensi dakwah sering berakibat pada ketidaksiapan atau keterlambatan da’i dalam merespon fenomena sosial.
    6.     Ketegasan bersikap; Bahwa kompleksitas wilayah dakwah sesuai dengan kompleksitas permasalahan masyarakat. Permasalahan tesebut menuntut da’i untuk bersikap tegas yang berpengaruh kepada perilaku umat. Untuk itu rasa percaya diri dan ketegasan seorang da’i untuk segera berani menentukan sikap adalah hal penting dalam melaksanakan dakwah.
     Menilik fenomena social yang muncul dewasa ini berkaitan dengan eksistensi serta peran dakwah, dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut:
    1.     Da’i dan umat adalah satu keterkaitan sistem yang tidak dapat dipisahkan mengingat keterikatan moral di antara keduanya, sehingga peran strategis akan sangat menentukan lahirnya peradaban yang berbasiskan pada keshalehan social sejalan dengan pola pembangunan negara dengan berbagai kepentingannya.
    2.     Sebagai figur tauladan, da’i dituntut memiliki kemampuan optimal menyangkut kondisi masyarakatnya untuk dapat mengimbangi fenomena yang terjadi yang cenderung meningkat dari sisi kualitas maupun kuantitasnya
    3.     Da’i tidak boleh kaku dalam menentukan pendekatan dakwah, mengingat dakwah bil-hal dan bil-lisan merupakan pola yang harus dilakukan sehingga pilihan tidak bisa dijatuhkan hanya kepada salah satunya saja dan ini menuntut da’i sebagai sosok yang multi fungsi serta multi daya. Wallahu a’lam bi al shawab.
    Oleh: Thantowie Musaddad, MA.

    PROFIL PONDOK PESANTREN PUTRA PUTRI AL MAUNAH

    Tidak ada komentar
    SELAYANG PANDANG
    Pondok Pesantren Putra Putri Al Maunah Berdiri pada tahun 2001, dalam masa krisis moneter yang berkepanjangan dari mulai tahun 1998 sampai 2001. Pesantren ini semula bernama Pondok Pesantren Tahfidzus Syari’ah yang bertempat di lokasi lama dengan ukuran tanah yang sangat sempit dan bangunannya masi sangat sederhana (gubug) yang terbentuk dari bambu dan lebih terfokus dengan pengajian salafnya, yang beralamat di Jl. Pas. Minggu Kramat Blok Sembung Desa Kepuh Kec. Palimanan Kab. Cirebon Prop. Jawa Barat, setelah berjalan sekian bulan kemudian ada seorang pengusaha yang rela memberikan sebidang tanahnya seluas ± 4000 m2 dan di wakafkan kepada KH. Bahrudin Yusuf  dan putra-putranya. Pada saat itulah tanah wakaf tersebut di kembangkan menjadi pesantren yang sekarang berdiri. namun seiring dengan perkembangan waktu dan berkembangnya jumlah santri, pesantren ini mulai mengembangkan pendidikan formal mulai dari TPQ (Qiro’aty), Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA). Setelah tanah tersebut dibangun rumah untuk kediaman Pengasuh, mulailah santri-santri dipindah dari pesantren lama ke pesantren yang baru sampai sekarang dan seterusnya.
    Pesantren ini adalah pesantren pindahan dari pesantren lama ke lokasi baru yang telah dirintis oleh KH. Bahrudin Yusuf dan Putra-Putranya setelah memisahkan diri dari pesantren yang lama karena banyak hal yang harus di hadapi sehingga harus memisahkan diri dan alasan tersebut tidak bisa kami unkapkan di media umum. Dengan berbagai dukungan orang-orang dalam pengembangan pesantren Al Maunah, KH. Bahrudin Yusuf dan Putra Putranya mulai bergerak untuk mengembangkan pesantren tersebut mulai bangunan fisik sampai program dan metode yang diterapkan di Pesantren Al Maunah. Dan alhamdulillah sampai sekarang jumlah santri terus meningkat dengan sungguhan-sungguhan program extra kurikuler mulai mendapatkan banyak respon dari berbagai daerah, mulai dari daerah Cirebonnya sendiri, hingga daerah Indramayu, Majalengka, Subang, Jakarta, Sumatra dan Jawa Tengah. Tapi semua itu berkat kegigihan sang pendiri (pengasuh) Pondok Pesantren Putra Putri Al Maunah yaitu KH. Bahrudin Yusuf dan Putra Putranya, kesungguhan itu dibuktikan oleh sang pendiri (pengasuh) dengan menganjurkan membaca Al Qur’an setelah sholat maghrib dan MUJAHADAH di setiap malam jum’at bersama seluruh santri, karena kami meyakini semuanya ini kami bisa mendapatkan Rahmat Allah Swt.
    Atas usul beberapa kiyai-kiyai dan orang yang berpengaruh pada saat itu dan mengingat kondisi pada waktu itu yang semula bernama Tahfidzuas Syari’ah di ganti nama menjadi  Pesantren Putra Putri Al Maunah pada tahun 2001. Diantara tujuan nama Al Maunah itu sendiri untuk mengabadikan nama orang yang telah mewakafkan tanah tersebut yaitu H. Maun dan H. Nasir (keduanya adalah putra dari H. Mansyur).
    Metode pengajaran yang dikembangkan oleh pesantren ini pada awal berdirinya adalah murni salaf (ortodoks). Pengajaran dilakukan dengan cara bandongan (kuliah umum) dan sorogan (membaca kitab satu persatu). Kedua metode tersebut langsung di jalankan oleh KH. Bahrudin Yusuf dan Putra Puutranya. Ketika jumlah santri meningkat dan kesibukan pengasuh (KH. Bahrudin Yusuf) bertambah maka beberapa alumni santri senior yang telah siap, baik secara keilmuan maupun mental, untuk membantu menyimak sorogan dan kegiatan-kegiatan yang lain. Pengajian bandongan terjadwal dalam sehari semalam pada masa KH. Bahrudin Yusuf meliputi pengajian kitab Awamil, Jurumiyah, Safintaun Najah, Sulamun Najat, dan Qur’an sehabis maghrib, kemudian Musyawarah sehabis Isya. Kitab Ihya Ulumudin dan Al Mahaly setelah waktu Dhuha, selain itu KH. Bahrudin Yusuf melanjutkan kegiatan diluar Pesantren mengadakan pengajian umum untuk masyarakat kampung sekitar pesantren tiap hari Rabu dan Senin Ba’da dzuhur atau biasa disebut Jam’iyah Muslimat husus di wilayah sekitar pesantren.
    Tahun 2005, tiga tahun setelah mengeluarkan siswa angkatan pertama Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah, pendiri (KH. Bahrudin Yusuf) dan Putra Putrnya, yakni H. Imron Rosyadi, Lc, Abdul Hakim, H. Karyono, Lc, mulai mengadakan urun rembuk untuk mengembangkan sistem pengajaran model madrasah dengan kurikulum yang berlaku di pesantren pada umumnya yaitu menjadwal kitab-kitab untuk di jadikan mata pelajaran Madrasah diniyah pesantren. Mulai dari kelas Awamil, kelas Jurumiyah, Kelas Amrity, Kelas Al fiyah
    JADWAL PELAJARAN MADRASAH DINIYAH PESANTREN
    No
    TINGKATAN KELAS
    NAMA KITAB
    KETERANGAN
    1.
    AWAMIL
    Tafrihatul Wildan (Awamil)
    Ilmu Nahwu


    Safunatun Najah
    Ilmu Fiqih


    Hidayatus Sibyan
    Ilmu Tajwid


    Taysirul Kholaq Juz 1
    Ilmu Akhlaq


    Aqidatul Awam
    Ilmu Tauhid


    MUSYAWARAH

    2.
    JURUMIYAH
    Jurumiyah
    Ilmu Nahwu


    Sulamun Najat
    Ilmu Fiqih


    Tuhfatul Athfal
    Ilmu Tajwid


    Taysirul Kholaq Juz 2
    Ilmu Akhlaq


    Khoridatul Bahiyah
    Ilmu Tauhid


    Arba’in Nawawi
    Hadits


    MUSYAWARAH

    3.
    Amrity
    ‘Amrity
    Ilmu Nahwu


    Matan Taqrib
    Ilmu Fiqih


    Jazariyah
    Ilmu Tajwid


    Adabun Nabawy
    Ilmu Akhlaq


    Kifayatul Awam
    Ilmu Tauhid


    Riyadlus Sholihin
    Hadits


    MUSYAWARAH

    4.
    Al Fiyah
    Al Fiyah ibnu Malik
    Ilmu Nahwu


    Minhajul Qowim
    Ilmu Nahwu


    Lathoiful Isyaroh
    Ilmu Usul Fiqh


    Riyadlus Sholihin
    Hadits


    MUSYAWARAH

    Mengacu kepada kurikulum Madrasah Diniyah Pesantren  Makkah di samping pengajian bandongan dan sorogan. Usul ini disepakati oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al Maunah  sehingga didirikanlah Madrasah Pesantren yang waktunya Malam Hari setelah waktu Isya dan ba’da dzuhur husus untuk Ilmu Alat baik Awamil, jurumiyah Atau Amrity dan Al Fiyah. Pengajarnya adalah kyai (pengasuh pondok pesantren), putra putranya dan santri alumni yang sudah mempunyai kemampuan dibidangnya dan santri-santri senior yang masih aktif di pesantren.
    kemudian setelah berkembang dan bertambahnya santri mulailah putra putra beliau merintis program dalam keahlian berbahas arab (tahasus lughotul Arab) dan di dukung dengan program musyaawrah fathul Qorib setiap ba’da Jum’at untuk santri putra dan putri husus untuk santri ptri dianjurkan untuk mengikuti tahasus Risaltul Mahidl dan masi banyak program program ekstrakurikuler yang lainnya. Semu program itu berjalan sampai sekarang. Selain program program yang telah di paparkan tadi pesantren juga telah melengkapi perpustakaan digitalnya sehingga memudahkan santri-santri untuk mencarai referensi kitab dan yang lainnya juga dilengkapi dengan Internet.
    KEGIATAN PESANTREN
    Kegaiatan pesantren ini meliputi kegiatan formal karena di pesantren kami, pesantren dan formal dalam satu atap, sehingga Kegiatan pesantren terdiri dari empat tahap, Tahap Pertama : pagi pkl. 07.00 – 12.00 untuk kegiatan belajar mengajar dalam pendidikan formal baik Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan Taman Pendidikan Qiro’aty (TPQ), dan pengajian yang di ikuti oleh masyarakat umum Tahap Kedua : ba’da dzuhur pkl 14.00 – 16.00 untuk kegiatan ngaji husus Ilmu Alat mulai tingkat Awamil sampai Al Fiyah dan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Tahap Ketiga : Ba’da isya pkl. 19.30 – 21.00 untuk pengajian bandongan dengan sistem di madrasakan untuk Tahap Keempat : pkl. 21.00 – 22.00 untuk kegiatan Musyawarah sesuai dengan tingkatannya.
    PENUTUP
    Demikianlah sekilas pandang tentang Pondok Pesantren Putra Putri Al maunah yang telah di rintis oleh KH. Bahrudin Yusuf dan putra putranya, semoga pesantren yang kami rintis selalu dalam lindungan dan Rahmat serta Inayahnya Allah Swt. Dan selalu mendapatkan Syafaat Nabi kita Nabi Muhammad saw. Semoga menjadi santri yang manfaat, maslahat dan barokah. Dan Sehingga menjadi santri yang Rohmatan Lil Alamin.

    HIKMAH DARI KISAH NABI MUSA ALAIHISSALAM

    Tidak ada komentar

    Oleh: H. Karyono, Lc
    Orang bijak adalah orang yang mampu mengambil ‘ibroh/pelajaran dari apa yang ia lihat ia dengar dan ia rasakan baik yang menimpa pada dirinya dan juga dari apa yang terjadi pada orang lain baik itu dari masa-masa yang lalu maupun dari apa yang sedang terjadi saat sekarang ini. Di antara hikmah yang terjadi dimasa lalu adalah bagaimana kita mengambil pelajaran dari apa yang dikisahkan oleh Allah dari umat-umat terdahulu dari para nabi, para rosul dan para waliyullah, Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat : 111
    لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأولِي الألْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
    “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
    Dan diantara kisah-kisah itu adalah kisa Nabi Musa AS dengan Fir’aun yang secara khusus Allah sampaikan kepada Nabi kita Muhammad SAW dalam surat Al-Qoshos ayat 3-6 :
    نَتْلُوا عَلَيْكَ مِنْ نَبَإِ مُوسَى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (٣)إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلا فِي الأرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ (٤)وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ (٥)وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا يَحْذَرُونَ (٦) 
    3. Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun de- ngan benar untuk orang-orang yang beriman.
    4. Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
    5. dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi
    6. dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang se- lalu mereka khawatirkan dari mereka itu
    Seesungguhnya orang-orang beriman akan selalu mendapat halangan dan rintangan dari musuh-musuh islam dari orang kafir dan dari orang-orang Munafiq, dan ketika mereka bersabar bersungguh-sungguh dan teguh hatinya dalam menghadapi halangan dan rintangan tersebut maka pertolongan dari Allah dan kemenangan akan di raih, begitu pula dengan Fir’aun ketika ia mengancam orang-orang beriman yang diceritakan dalam Al Qur’an surat Al ‘Araf ayat 127 :
    وَقَالَ الْمَلأ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَتَذَرُ مُوسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ قَالَ سَنُقَتِّلُ أَبْنَاءَهُمْ وَنَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ وَإِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُونَ
    “Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". Fir'aun menjawab: "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan Sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka".
    Maka Nabi Musa menanggapi ancaman seperti itu dengan menyeru  semua pengikutnya dari orang-orangayang beriman untuk segera memohon pertolongan kepada Allah dan bersabar dalam menghadapi cobaan ini dan beliau menjanjikan kepada pengikutnya bahwa pertolongan Allah akan datang, seperti apa yang disebutkan dalam Al Qur’an dalam surat Al A’raf ayat 128-129 :
    قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الأرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ (١٢٨) قَالُوا أُوذِينَا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَأْتِيَنَا وَمِنْ بَعْدِ مَا جِئْتَنَا قَالَ عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الأرْضِ فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ (١٢٩)
    128. Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah
    dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."
    129. kaum Musa berkata: "Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada Kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.
    Dan berlangsunglah perseteruan antara yang haq dan yang bathil, yaitu antara Musa dan Fir’aun, pada akhirnya Allah memerintahkan Nabi Musa AS beserta kaumnya untuk keluar dari negri Mesir guna menyelamatkan agama mereka. Mendengar berita bahwa Musa dan pengikutnya akan keluar dari mesir , Maka Fir’aunpun mengumpulkan bala tentaranya untuk mencegah dan mengejar Musa dan kaumnya, hal ini trgambar dalam Al qur’an surat Asy Syu’ara 54-56:
    إِنَّ هَؤُلاءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ (٥٤)وَإِنَّهُمْ لَنَا لَغَائِظُونَ (٥٥)وَإِنَّا لَجَمِيعٌ حَاذِرُونَ (٥٦)
    54. (Fir'aun berkata): "Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil,
    55. dan Sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita,
    56. dan Sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga".
    Tatkala bala tentara Fir’aun mengejar Musa dan kaumnya sampai di sebuah pantai,  kaum Nabi Musa makin merasa ketakutan dan kepanikan yang luar biasa karena pasti bala tentara Fir’aun akan membantai dan membunuh mereka di tempat itu, maka di tengah kepanikan itu mereka berteriak :
    إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (٦١)
    "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul." (QS. As Syu’ara’: 61)
    Maka ketika itu Musa AS menenangkan mereka dengan mengatakan:
    قَالَ كَلا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (٦٢)
    “Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As Syu’ara’: 62)
    Dan terbuktilah janji Allah tersebut dengan memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya ke air laut itu dan terbentanglah seketika itu juga jalan seperti daratan di tengah laut maka Musa dan pengikutnya segera melintasi jalan tersebut sehingga sampai di sebrang lautan dengan selamat, dan pasukan Fir’aunpun ikut menyebrangi jalan tersebut, namun ketika pasukan itu sudah berada ditengah perjalanan Allah dengan kuasanya mengembalikan jalan itu menjadi air laut lagi dengan gelombang ombak yang sangat besar sehingga tenggelamlah Fir’aun beserta bala tentaranya di tengah lautan itu, Musa dan pengikutnya menyaksikan kejadian itu.
    Begitulah bagaimana keyakinan dan keteguhan Nabi Musa AS akan pertolongan Allah SWT dalam keadaan kritis sebahaya apapun ini persis di alami juga oleh Nabi kita Muhammad SAW ketika Ia keluar bersama sahabatnya Abu Bakar Ashiddiq untuk berhijrah ke Madinah mereka berdua terlebih dahulu bersembunyi di sebuah gua yaitu gua tsour dan orang-orang kafirpun tidak mau kehilangan jejak, mereka melakukan pengejaran dan pencarian sehingga sampailah di atas gua yang Rosulullah dan sahabatnya bersembunyi disitu, sehingga Abu Bakar dengan merasa khawatir terhadap jiwa Rosulullah Ia berkata : “Kalaulah salah seorang dari mereka melihat kakinya mereka pasti melihat kita”  maka turunlah ayat :
    إِلا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٤٠)   
    “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah : 40).
    Maka sesungguhnya pertolongan Allah datang dengan kesabaran dan kelapangan datang setelah kesempitan serta kemudahan datang setelah kesusahan, Nabi SAW bersabda :
    واعلم أن النصر مع الصبر وأن الفرج مع الكرب وأن مع العسر يسرا
    “Dan ketahuilah bahwasanya pertolongan itu beserta kesabaran dan kelapangan beserta kesempitan dan kesulitan beserta kemudahan”
    Dari sepenggal kisah ini kita dapat mengambil pelajaran yaitu, sesungguhnya kebathilan walaupun didukung dengan kekuatan materi yang banyak akan binasa dihadapan kebenaran/al haq ketika para pembela kebenaran itu bersabar menghadapi kebatilan tersebut, Allah berfirman:
    وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا (٨١)
    “Dan Katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Al Isra : 81)
    Pelajaran yang lain dari kisah ini adalah, Nabi Musa AS melakukan puasa di hari dimana ia diselamatkan dari kejaran Fir’aun dan tentaranya sebagai rasa syukur atas kemenangan yang haq dari kebathilan, dan puasa ini diikuti oleh Nabi kita Muhammad SAW. Ini menunjukan baahwa hendaknya segala kenikmatan yang Allah berikan kepada kita berupa keselamatan, kesehatan, kemudahan dan yang lainnya hendaknya disyukuri dengan melakukan berbagai macam ibadah dan ketaatan bukan dengan hura-hura dan pesta pora yang malah menimbulkan dosa.
    Wallahu A’lamu bishawab.
    Diberdayakan oleh Blogger.